Pages

Selasa, 03 Mei 2011

Teori Struktural

APAKAH TEORI STRUKTURAL ITU ?

Definisi Teori Struktural
Teori struktural sastra tidak memperlakukan sebuah karya sastra tertentu sebagai objeknya kajiannya. Yang menjadi objek kajiannya adalah sistem sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama lain dalam keseluruhan yang utuh. Meskipun konvensi yang membentuk sistem sastra itu bersifat sosial dan ada dalam kesadaran masyarakat tertentu, namun studi sastra struktural beranggapan bahwa konvensi tersebut dapat dilacak dan dideskripsikan dari analisis struktur teks sastra itu sendiri secara otonom, terpisah dari pengarang ataupun realitas sosial. Analisis yang seksama dan menyeluruh terhadap relasi-relasi berbagai unsur yang membangun teks sastra dianggap akan menghasilkan suatu pengetahuan tentang sistem sastra.
Sejarah Munculnya Teori Struktural
Pendekatan struktural terhadap karya sastra sesungguhnya sama tuanya di dunia barat dengan puitik sebagai cabang ilmu pengetahuan. Dalam bukunya yang berjudul poetika, yang ditulis sekitar tahun 340 SM di Athena (Teeuw, 1984:120) Aristoteles meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang otonom. Masalah struktur karya sastra dibicarakannya dalam rangka pembahasan tragedi, khususnya dalam pasal-pasal mengenai plot. Efek tragedi dihasilkan oleh aksi plotnya, dan untuk menghasilkan efek yang baik, plot harus mempunyai keseluruhan dan dipenuhi empat syarat utama yaitu order, unity, complexity, dan coherence.
Pendekatan struktural berangkat dari pandangan kaum strukturalisme yang menganggap karya sastra sebagai struktur yang unsurnya terjalin secara erat dan berhubungan antara satu dan lainnya.Karya sastra merupakan sebuah kesatuan yang utuh.Sebagai kesatuan yang utuh, maka karya sastra dapat dipahami maknanya jika dipahami bagian-bagiannya atau unsur-unsur pembentuknya, relasi timbal balik antara bagian dan keseluruhannya. Struktural genetik lahir sebagai wujud ketidak puasan terhadap teori struktural yang melihat karya sastra sebagai sesuatu yang otonom.
Pendekatan secara struktural sempat tidak tidak diminati pada abad ke-19 karena pendekatan secara ekspresiflah yang lebih diminati, setelah itu pada abad ke-20 pendekatan ini muncul kembali sebagai model yang mengalami pembaharuan cukup radikal. Pendekatan strukturalisme dalam karya sastra dipelopori oleh kaum formalis Rusia dan strukturalisme Praha ia mendapat pengaruh langsung dari teori Linguistik Ferdinand De Saussure. Secara garis besar konsep Saussure menganggap linguistik sebagai ilmu yang otonom, jika ditarik dalam ilmu sastra maka karya sastra juga memiliki sifat keotonomian sehingga pembicaraan mengenai karya sastra tidak perlu dikaitkan dengan ilmu-ilmu yang lainnya.
Di bidang antropologi budaya pendekatan structural muncul pada awal abad ini, dengan peneliti perancis seprti Durkheim dan maus sebagai pelopornya.di bidang studi antropologi (pada waktu itu di sebut etnolagi) mengena bahasa alira strukturalis secara cukup menonjol diwakili oleh J.P.B josselin de jong dan W.H. Rassers, dengan murid-muridnya yang merupakan mazhab leiden, yang hasil-hasilnya mencapai tariff internasional

Tokoh-Tokoh Dan Konsep Dasar Teori Struktural
A. Aristoteles
Empat konsep Aristoteles yaitu :
1. Order berarti urutan dan aturan. Urutan aksi harus teratur dan logis.
2. Unity berarti bahwa semua unsur dalam plot harus ada, dan tidak bisa
bertukar tempat tanpa mengacaukan keseluruhannya.
3. Complexity berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan kekomplekan karya
harus cukup untuk memungkinkan perkembangan peristiwa yang logis
untuk menghasilkan peredaran dari nasib baik ke nasib buruk ataupun sebaliknya.
4. Coherence berarti bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebutkan hal-hal
yang benar terjadi, tetapi hal-hal yang mungkin atau harus terjadi dalam
rangka keseluruhan plot.

B. Ferdinand De Saussure
Secara garis besar, konsep Saussure menganggap linguistik merupakan ilmu yang otonom.Jika ditarik dalam ilmu sastra, maka karya sastra juga memiliki sifat keotonomian sehingga pembicaraan mengenai karya sastra tidak perlu dikaitkan dengan ilmu-ilmu yang lainnya.

C. Kaum Formalis
Tokoh-tokoh kaum formalis yaitu :
a. Jakobson
b. Shklovsky
c. Erchenbaum
d. Tynjanov
Teori kaum formalis dalam waktu singkat antara 1915 dan 1930 telah mengalami perkembangan yang cukup pesat sehingga tidak mungkin pendirian formalis disimpulkan dalam satu rumusan saja. Adapun konsep kaum formalis yaitu :
1. Konsep yang sangat penting dalam pandangan kaum formalis adalah konsep dominant ciri yang paling menonjol menurut pendapat dan pengalaman mereka dalam sebuah karya sastra (seringkali pula dalam aliran atau zaman tertentu) aspek bahasa tertentu secara dominan menentukan ciri-ciri khas hasil karya sastra.
2. Konsep kaum formalis bersifa otonom artinya dapat dipahami sebagai kesatuan yang bulat.

SIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Jadi teori struktural mengkaji struktur karya sastra dimana struktur itu merupakan satu kesatuan yang bulat dan tak dapat dipisah-pisahkan dengan kata lain bagian-bagin pembentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar dari pada struktur itu.Dengan teori struktural, kita dapat menunjukkan bahwa setiap unsur itu mempunyai fungsi tertentu sesuai dengan aturan dalam struktur itu. Menurut pikiran strukturalisme karya sastra merupakan hubungan dari pada benda-benda.struktural adalah cara brerpikir tentang dunia yang dikaitkan dengan persepsi dan struktur. Satu konsep yang menjadi ciri khas teori struktural adalah adanya anggapan bahwa dalam diri karya sastra merupakan suatu struktur yang otonom, yang dapat dipahami sebagai suatu kesatuan yang bulat. Secara definitif strukturalisme memberikan perhatian terhadap analisis unsur-unsur
Dapat dikatakan bahwa pendekatan strukturalis terhadap sastra dan karya sastra harus di tempatkan dalam seluruh model semiotic : penulis,membaca ,kenyataan,tetapi pula system sastra dan sejarah sastra semuanya harus dimainkan peranya dalam interprestasi karya sastra yang mnyeluruh. Tapi sekaligus harus dikatakan bahwa dalam rangka semiotic analisis struktur tetap penting dan prlu


DAFTAR PUSTAKA
Teeuw, A. (1987). Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

0 komentar:

Poskan Komentar